Selama beberapa minggu saya tidak ahu apa yang tengah merasuki saya hingga begitu down dan pesimis. Semuanya terasa tak jelas dan tak nyata, saya seperti zombie berjalan. Saya bahkan tak tahu apa yang terjadi dengn sistem di tubuh saya, tak tahu lagi apa yang saya rasakan, saraf2 saya tegang menanti setiap menit berganti jam, jam berganti hari, dan hari-hari akan berganti tahun. Saya menutup diri, saya undur dari dunia saya yang tadinya sangat cerah dan penuh semangat. Dan tubuh saya seperti tak memeiliki refleks lagi terhadap sentuhan2 mengejutkan pada kejadian disekitar saya. Saya tidak tahu, apakah itu karena terlalu banyak kejutan di hidup saya sehingga semua saraf refleks saya aus menerima kejutan2 itu.
Dan kenyataannya kejutan2 itu tidaklah membuat saya bahagia, saya malah sedih dan ingin menangis. Saya justru menghabiskan lebih banyak waktu unuk melamun karena kenyataan2 itu. Sistem pertahanan saya bobol, dan membuat saya bersikap dramatis.
Saya benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada diri saya. Saya benar-benar tidak mengerti. Teman-teman saya semua menjauh, saya tahu itu semua karena kesalahan saya, tapi saya tidak tahan mereka yang biasa langsung mengajak saya bicara begitu ada yang salah sekarang mereka malah diam menjauhi diri saya.
Saya tidak tahan, dan hal ini membuat saya ingin berlari. Berkali-kali niat itu ingin saya lakukan tapi selalu saya urung dan terus bersabar. Pikiran saya, saya harus lari, harus pergi. Ya! Pada saat ini memang mental saya benar-benar diuji, dan saya telah lama merasakan diri saya sebagai pengecut dari pada seorang yang sabar dan kuat. Karna tidak mngkin saya membohongi diri sendiri seperti orang gila.
Yah.. Ini lah kenyataan pahitnya, the ugly truth yang terus manusia pungkiri, bahwa setiap manusia adalah android yang paranoid terhadap dunia dan hal-hal yang tidak diinginkannya, manusia tidak mau menerima kenyataan buruk yang ada didepan mata. Tak jarang juga manusia bersikap curang ntuk mempecundangi nasib mereka bahwa kenyataan tersebut tak pernah ada, makanya dunia ini tak lebih dari sekedar sandiwara dengan sutrada dan penulis naskah adalah Tuhan.
Saya bukannya durhaka menghujat tuhan, tapi ya.. Memang tak bisa dipungkirikan? Toh memang tuhan yang menentukan skenario hidup kita. Tapi karena tidak semua garis nasib yang bisa diterima manusia membuat mereka ingin mencoret dan meng-edit kenyataan diberikan terhadap mereka. Beberapa ada yang sanggup berdiri diatas kenyataan buruk hidup mereka dengan melakukan hal itu, tapi beberapa lagi hanya sanggup menerima kenyataan itu dan terus menjalani hidup yang 'gloomy' demi kenyataan itu. Lebih halusnya bisa disebut dengan 'sabar'. Yah begtulah manusia, saat 'bersabar' mereka sebut dengan murung dan mengasihani diri, tapi jika telah berhasil memanipulasi keadaan buruk yang ada dibilang 'naif' lah, 'egois', 'poker face' lah.
Manusia mempunyai libido masing yang tidak pernah sama untuk memuaskan nafsu batin mereka. Manusia membutuhkan kepuasan, kebebasan, dan rasa bangga terhadap diri mereka. Bahkan tidak mungkin untuk tidak menjatuhkan mental (libido) orang lain demi ego sendiri. Tapi saya pikir, bukankah ada cara lain untuk meraih kepuasan libido itu selain menjatuhkan mental orang lain, selain membicaraka rekan kerja sendiri di belakang, untung-untung yang dibicarakan itu baik, tapi kalau pembicaraan itu sudah masuk ranah privasi orang lain maka telak tak akan ada ampun bagi orang yang mengkhianati sahabatnya sendiri.
Kapan manusia tidak dikatakan egois? Saya rasa tidak pernah ada kata 'tidak egois' unuk manusia. Manusia lekat dengan ego, ego adalah wujud keinginan super ego. Menurut saya kehidupan ini, alam dan segala makhluk yang ada didalamnya adalah semua perwujudan ego. Semua memiliki ego. Bahkan benda mati seprti atom dan partikel sekalipun, semuanya punya ego masing2. tidak egois berarti tidak punya hasrat, tidak punya hasrat berarti bukan makhluk hidup dan apalagi bukan makhluk mati. Egois tidak dilarang asalkan manusia dan makhluk lainnya mampu menggunakan perangkat ini dengan benar. Pada saat-saat tertentu anda (sebagai manusia) diperbolekan menjadi makhluk yang egois, tapi pada saat2 tertentu pula anda juga JANGAN egois dengan sebuah keadaan yang tidak anda terima. Jangan memaksa bila memang kenyataannya tidak bisa.
hlah ngomongnya jadi ga nyambung. berhubung saya sedang gila menulis jadinya semua yang saya pikirkan ya di umbar saja....
No comments:
Post a Comment
bilang